Pendidikan Menurut Al Qur’an

Home  »  Artikel   »   Pendidikan Menurut Al Qur’an

pak-dayatOleh: M. Hidayat Mukrom, S.Th.I

Apa kira-kira jawaban anda bila ada seseorang bertanya pada anda tentang arti pendidikan? Sebagian mungkin akan langsung menjawab lancar, sebagian lain akan sedikit berfikir dan mengernyitkan dahi mengingat-ingat yang anda ketahui tentang arti pendidikan dan mungkin sebagian yang lain akan diam karena meski istilah itu begitu familiar dan populer namun tidak diketahuinya. Upaya menjawab dan mendefinisikan tentang arti pendidikan sudah dilontarkan pakar diantaranya mantan menteri pendidikan kita, Malik Fadjar yang mengartikan pendidikan sebagai kebutuhan hidup yang memainkan peranan sosial, dukungan terhadap pertumbuhan dan memandu perjalanan umat manusia secara individu, sosia, bangsa dan negara. Pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer hidup manusia selain makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Pendidikan bisa juga diartikan sebagai upaya terus-menerus yang dilakukan manusia untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya, meningkatkan kapabilitasnya menghadapi dunia dan lingkungan sekelilingnya, merubah dirinya kearah kemajuan dan tatanan yang lebih baik dari sebelumnya.

Urgensi pendidikan bersifat ruhaniah, bukan jasmaniah. Betapa manusia perlu makan untuk keberlangsungan hidupnya, butuh pakaian untuk menghangatkan tubuhnya dan butuh tempat tinggal untuk melindunginya dari bahaya alam dan sebagai tempat peristirahatan. Manusia sebagai makhluk yang bersifat jasmani dan rohani, membutuhkan asupan energi untuk hidup. Pangan, sandang, papan sebagai asupan energi untuk jasmani sebagaimana halnya pendidikan yang merupakan asupan untuk unsur ruhaniah. Pendidikan inilah yang nantinya  memperbaiki dan memajukan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor diri manusia. Lalu bagaimana Al Qur’an, sebagai kitab suci yang diturunkan Allah SWT sebagai pedoman hidup manusia di bumi bicara tentang pendidikan? Hal inilah yang akan dibahas secara ringkas dan padat pada tulisan kecil ini.

Ada beberapa indikasi yang terdapat dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan antara lain: menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, sebagai fitrah manusia, penggunaan kisah masa lalu untuk tujuan pendidikan dan memelihara keperluan sosial masyarakat. Istilah pendidikan dapat ditemukan dalam Al Qur’an dengan istilah at tarbiyah, at ta’lim, dan at ta’dib.

Tarbiyah

Konsep at tarbiyah sebagaimana dikutip Ahmad Tafsir merupakan salah satu konsep pendidikan Islam yang penting. Kata “tarbiyah” berasal dari kata bahasa arab dari fi’il (kata kerja) sebagai berikut:

a)      Rabba-yarbu; yang berarti tumbuh, bertambah, berkembang

b)      Rabbiya-yarba; yang artinya tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa

c)      Rabba-yarubbu; yang berarti memperbaiki, mengatur, menuntun, mengurus dan mendidik, menguasai dan memimpin, menjaga dan memelihara.

Kata-kata “Rabb” dalam salah satunya terdapat dalam surat al Fatihah ayat 2,  “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” Terdapat penafsiran terhadap kata “Rabb” pada ayat tersebut yaitu Allah itu Pendidik semesta alam tak ada juga dari makhluk Allah SWT itu terjauh dari didikanNya. Allah mendidik makhlukNya dengan seluas arti kata itu. Sebagai Pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.

Selain Allah SWT sebagai Rabb yang berarti pendidik, manusia juga bisa berperan sebagai pendidik. Al Qur’an juga menggunakan redaksi “Rabb” pada manusia, sebagaimana firmanNya dalam surat al Isra’ ayat 24:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Walaupun ayat ini dalam beberapa tafsir banyak menitikberatkan pembahasan pada kewajiban anak terhadap orang tua, namun kata “rabba” yang diartikan mendidik memberikan pembentukan istilah “tarbiyah” yang diartikan pendidikan. Dan kata “saghiran” menunjukkan kewajiban orangtua mendidik anak-anaknya dimulai sedari kecil. Imam Qurtubi dalam tafsirnya mengatakan bahwa mendidik anak yang disertai rasa letih dan kasih sayang orangtua menunjukkan bahwa pendidikan harus dilakukan terus menerus dan berkesinambungan.

Ibnu Abbas berkata, “Jadilah kamu semua itu golongan rabbani, yaitu (golongan yang) penuh kesabaran serta pandai dalam ilmu fiqih (yakni ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum hukum agama), dan mengerti.”Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud “rabbani”” ialah orang yang mendidik manusia dengan mengajarkan ilmu pengetahuan yang kecil-kecil sebelum memberikan ilmu pengetahuan yang besar-besar (yang sukar).

Isim (Kata benda) “al Rabb” juga berasal  dari kata “tarbiyah” yang berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaannya secara bertahap. Dr. Abdul Hamid Al Hasyimi dalam bukunya ‘Mendidik Ala Rasulullah; Bagaimana Rasulullah Mendidik(1981) mengisyaratkan bahwa dalam dunia pendidikan terjadi proses konstruktif-kontinuitas(kesinambungan);sedikit demi sedikit, sesat demi sesaat. Bahkan, adakalanya menekuninya dengan semangat yang serius, di waktu lain dengan bersenda gurau. Itu adalah reaksi spontan bagi panggilan fitrah manusia. Jiwa seseorang pada saat mengambil haknya dengan bebas dan bahagia akan lebih mampu melakukan pekerjaan dengan baik.

Al Jauhari mengatakan bahwa tarbiyah dan beberapa bentuk lainnya secara makna memiliki arti member makan, memelihara; yakni dari akar kata ghadza atau ghadzw yang mengacu pada segala sesuatu yang tumbuh seperti anak-anak, tanaman, hewan dan sebagainya.\r\n\r\nDari pemaparan makna diatas dan didasarkan pada penjelasan yang lain memberikan pengertian bahwa istilah “Rabb” yang melahirkan kata “tarbiyah” tersebut mencakup segala hal yang bisa ditumbuhkan, dipelihara dan dikembangkan tidak hanya terbatas pada manusia, padahal-sebagaimana dikutip dari al Attas- pendidikan dalam arti Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia. Menurutnya, istilah tarbiyah belum memadai untuk membawakan konsep pendidikan dalam pengertian islam.

Ta’lim

Kata “ta’lim” terbentuk dari kata dasar ”’allama-yu’allimu-ta’liman”. Term ini ditemukan dalam surat al Jumu’ah ayat 2,

“ Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Dalam surat madaniyyah tersebut digunakan kata ”yu’allimu”, yang merupakan salah satu kata dasar yang membentuk istilah “ta’lim”. “yu’allimu” diartikan mengajarkan, untuk itu istilah ta’lim diterjemahkan dengan pengajaran (instruction). Menurut Syaikh Rasyid Ridha, ta’lim adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Definisi ini berpijak pada beberapa ayat, antara lain firman Allah Al Baqarah ayat 31 “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”. Ayat ini berisi tentang allama Allah kepada Nabi Adam, sedangkan proses transmisi dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisa asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya. Demikian halnya pada surat al Alaq ayat 4-5 “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Betapa dalam ayat inipun allama Allah pada manusia pun dilakukan dengan perantara kalam yang membutuhkan waktu dari ketidaktahuan manusia menjadi manusia yang berilmu. Dari pengertian ini disimpulkan bahwa pengertian ta’lim lebih luas/ lebih umum daripada istilah tarbiyah yang khusus berlaku pada sesuatu yang baru tumbuh seperti anak-anak. Hal ini karena ta’lim tidak terikat pada masa tertentu sehingga mencakup fase bayi, anak-anak, remaja dan orang dewasa, sedangkan tarbiyah, khusus pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.

Sayyid Muhammad Naquib al Attas, terdapat hal yang membedakan tarbiyah dengan ta’lim yakni ruang lingkup. Ruang lingkup ta’lim lebih umum daripada tarbiyah, karena tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga tarbiyah merupakan terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu pada segala sesuatu yang bersifat fisik-mental.

Ta’lim secara umum juga hanya terbatas pada pengajaran dan pendidikan kognitif semata-mata. Hal ini memberikan pemahaman bahwa ta’lim hanya mengedepankan proses pengalihan ilmu dari pengajar (mu’allim) kepada yang diajar (muta’allim). Misalnya pada surat Yusuf ayat 6 :“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari takbir mimpi-mimpi”, berarti ilmu pengetahuan yang dimaksud, diajarkan atau dialihkan kepada Yusuf adalah tabir mimpi. Sedangkan pada surat al Maidah ayat 4 : Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, ilmu yang diajarkan maksudnya adalah ilmu berburu.

Ta’dib

Ta’dib berasal dari kata kerja (fi’il) addaba-yuaddibu-ta’diban. Ta’dib dianggap sebagai istilah yang paling mewakili dari makna pendidikan berdasarkan Al Qur’an dan hadits dikemukakan oleh Sayyid Naquib al Attas. Al attas memaknai pendidikan dari hadits: “Tuhanku (Allah) telah mendidikku dengan pendidikan yang terbaik”

Addaba diterjemahkan oleh al Attas sebagai mendidik, yang menurut Ibnu Manzhur merupakan padanan kata allama dan oleh al Azzat dikatakan sebagai cara tuhan mengajar nabiNya sehingga al Attas mengatakan bahwa masdar addaba yaitu ta’dib mendapatkan rekanan konseptualnya didalam istilah ta’lim. Hadits tersebut memperjelas bahwa sumber pendidikan adalah Allah. Sehingga pendidikan yang nabi peroleh adalah sebaik-baik pendidikan. Dengan demikian dalam filsafat pendidikan Islam, rasulullah merupakan pendidik utama yang harus dijadikan teladan. Sebagaimana firman Allah: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan  yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (al Ahzab:21)

Dalam hadits lain, Prof. Abdullah Nasih Ulwan, mengambil hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Ali r.a, untuk menjadi dasar penting terhadap pendidikan al Qur’an untuk anak, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“didiklah anak-anakmu dalam tiga hal: mencintai nabimu, mencintai keluarga nabi, dan membaca al qur’an. Maka sesungguhnya yang membaca al qur’an berada dalam naunganNya bersama para nabi dan orang-orang suci”

Sebenarnya istilah ta’dib sudah sering digunakan masyarakat Arab pada jaman dahulu dalam hal pelaksanaan proses pendidikan. Perkataan adab dalam tradisi dikaitkan dengan kemuliaan dan ketinggian pribadi seseorang. Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: “didiklah anak-anak kamu dengan pendidikan yang baik”

Penggunaan ta’dib, menurut Naquib al Attas lebih cocok untuk digunakan dalam pendidikan Islam, konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul SAW. Ta’dib berarti pengenalan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan tuhan dalam tatana wujud dan keberadaannya.

Berdasarkan pendapat para ahli tafsir dan penjelasan pakar pendidikan tentang makna dan arti tarbiyah, ta’lim dan ta’dib, maka dalam persidangan dunia pertama mengenai pendidikan Islam tahun 1977, menegaskan bahwa pendidikan dalam Islam, yang merujuk dari Al Qur’an dan hadits sebagai sumbernya, didefinisikan sebagai tarbiyah, ta’lim dan ta’dib secara bersama-sama.

Akhirnya marilah kita berdoa agar Allah menetapkan hati kita pada agama dan bimbinganNya, karena tanpaNya apalah arti kekuatan dan ilmu kita; dalam Ali Imran ayat 8: (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).

Salam al-madinah

Posted on
Categories : Categories Artikel
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial