Sekolah Bercirikan Agama, Peletak Dasar Pendidikan Berkarakter

Home  »  Artikel   »   Sekolah Bercirikan Agama, Peletak Dasar Pendidikan Berkarakter

pak-dayatOleh: M. Hidayat Mukrom, S.Th.I (Pengawas Yayasan Abah Luthfi Center, Mahasiswa Program Magister Manajemen UNIKA)

Apa yang akan anak peroleh setelah pendidikannya? Bagaimana hasil pendidikan anak saya? Apakah perilakunya bertambah baik setelah dia dididik? Sekolah mana yang pantas untuk pendidikan anak saya? Begitu banyak pertanyaan yang bergayut dibenak anda selaku orang tua tentang anak-anak anda dan pendidikannya. Hal itu adalah wajar mengingat anak adalah aset anda, kebanggaan anda, tumpuan harapan anda, bahkan mungkin segalanya bagi anda. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, orang tuanyalah yang akan membuat dia sebagai seorang yahudi, nasrani, majusi, ataupun muslim yang taat. Disini jelas bahwa anak pada awalnya adalah objek orang tuanya. Dia ibarat kertas putih kosong yang diserahkan pada orang tua akan menggores dengan tinta warna apa. Dia dilahirkan fitrah (saya mengartikan; netral), karena kenetralannya maka sudah panta jika dia mengikuti apa yang dia lihat,dengar dan rasakan di masa-masa awal pertumbuhan dan pendidikannya.

Tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan. Dari yang tidak ada menjadi ada, tidak bisa menjadi bisa, tidak tahu menjadi tahu, tidak mengalami menjadi mengalami.

Perubahan disini tentu saja perubahan yang menuju kearah perbaikan positif. Akan saya bahas satu persatu bagaimana perubahan itu terjadi. Saya mendeskripsikan sedikitnya kearah 4 perubahan, yaitu:

Pertama; dari tidak ada menjadi ada. Sebagaimana disebut diawal, anak ibarat secarik kertas putih tanpa sesuatupun yang tertulis atasnya,fungsi kognitifnya kosong, aspek afektifnya nol. Dia merupakan memori tanpa data. Kumpulan data-data yang ditangkap melalui panca inderanya inilah yang akan mengisi memori hati,akal dan jiwanya. Disinilah fungsi pendidikan dasar anak sangat penting karena sebagai pengisi memori pertama kali. Anjuran rasulullah SAW untuk menyuarakan suara adzan ditelinga kanan dan iqamat ditelinga kiri anak saat lahir merupakan isyarat sempurna bahwa pendidikan yang bersifat ketuhanan  adalah mutlak diberikan pada memori anak-anak polos ini. Dari memori tanpa data menjadi ada data.

Kedua; dari tidak bisa menjadi bisa yang mana lebih bersifat motorik/ gerakan. Melalui pendidikan, salat umpamanya, yang mengandung unsure gerakan disamping unsure ubudiyyah. Lewat salat banyak gerakan bisa diajarkan, emegang bisa diajarkan dengan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri saat berdiri, ruku’ melatih gerakan punggng anak waktu mengambil barang-barang dibawahnya, sujud mengajarkan rasa hormat dan patuh. Bacaan-bacaan salat melatih kefasihan berkata-kata dan pengenalan waktu-waktu salat mengenalkan kedisiplinan. Lihatlah oleh anda betapa dari satu ibadah salat, anak diajar men-fungsikan anggota motorik dan gerakan-gerakan seperti memegang, mengambil, berdiri, duduk, mengangkat dan menggerakkan tangan, kaki, leher, berbicara dan aspek kognitif berupa disiplin, rasa hormat, patuh dan saling menghargai (pada saat salat berjamaah).

Ketiga; dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan pendidikan disekolah dia menjadi lebih banyak tahu tentang hal-hal yang tidak diajarkan dirumah.  Ilmu agama, matematika, IPA,IPS, bahasa inggris dan sebagainya, termasuk tata hidup pergaulan dengan teman sebaya (teman sekelas), juniornya (adik kelas), seniornya (kakak kelas), orang tua (guru-guru), bahkan bagaimana dia bersikap baik terhadap lawan jenisnya. Sekolah adalah tempat pengetahuan diberikan beserta tata kramanya.

Keempat; dari tidak mengalami menjadi mengalami. Mengalami bukan sekedar teori atau cerita-cerita yang diperdengarkan, di rumah anak adalah pusat perhatian orangtua dan keluarga dekatnya namun di sekolah, dia akan mengalami yang namanya pergeseran perhatian. Dia akan dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata ada “dunia lain” dari dunianya di rumah. Dia harus berbagi dengan anak-anak lain yang sama dengan keadaan dirinya saat di rumah masing-masing. Disinilah tempat asah mental dan nyali, anak akan mengalami pengalaman-pengalaman yang belum didapatnya dan tak pernah dia bayangkan. Pengalaman luar biasa yang harus dialami untuk siap keluar menghadapi  dunia, sebuah lingkungan diluar zona nyamannya; dalam pelukan hangat ibunya. Harapannya adalah terjadi perubahan pola pikir dan hidup pada individu terhadap diri, lingkungan, dan alam sekitarnya yang berkembang lebi h baik.

Pendidikan Berkarakter

Dennis Coon dalam bukunya, Introduction to Psychology: Exploration and Application mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat.

Mengapa seorang anak butuh pendidikan karakter? Pada dasarnya, perkembangan anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini. Bagaimana dengan tujuan pendidikan di negeri ini? UUD 1945 (versi amandemen) pasal 31 ayat 3 menyebutkan “ pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Masih dalam pasal 31 ayat 5 mnyebutkan “pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Berdasar pasal diatas, sistem pendidikan nasional adalah upaya meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia anak dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dimana kata iman, takwa, berakhlak mulia lebih dikedepankan dari kata cerdas.  Iman, takwa, dan berakhlak mulia inilah inti dari pendidikan karakter di negeri ini.

Jabaran UUD 1945 tentang pendidikan yang dituangkan dalam UU no. 20 tahun 2003, pasal 3 menyebut “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Berkali-kali kata iman, takwa dan berakhlak mulia disebut-sebut baik dalam pasal 31 ayat 3 dan ayat 5 serta dalam UU no. 20 tahun 2003. Ini menunjukkan bahwa karakter iman, takwa dan berakhlak mulia adalah agenda nasional yang harus didukung seluruh elemen bangsa terutama pendidik (baca:guru) di republik ini. Secara teknis, tercapainya tujuan pendidikan nasional dalam mendidik karakter, meningkatkan keimanan, ketakwaan dan berakhlak mulia adalah melalui pendirian sekolah-sekolah bercirikan agama. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter juga. Sekolah bercirikan agama telah mendasarkan agenda dan karakter lingkungannya pada sebuah pola sosial dan tatanan agama yang kuat.

Manajemen sekolah, perekrutan guru dan pegawai, penciptaan lingkungan yang terskenario (akan dibahas pada tulisan berikutnya) dan materi-materi ajar pilihan yang terseleksi adalah garansi bahwa sekolah bercirikan agama adalah peletak dasar pendidikan karakter karena disana akan ditumbuhkan karakter anak yang cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya, mandiri dan bertanggung jawab, jujur, amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong dan gotong royong, percaya diri dan bekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, toleran, damai dan bersatu, disamping tentu saja cerdas dan melek teknologi masa kini.

Sekolah bercirikan agama sebagai sekolah yang telah memiliki karakteristik pada sebuah agama (baca; Islam) yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung kecerdasan adalah peletak dasar pendidikan berkarakter bagi anak. Dengan materi ajar yang didominasi oleh pendidikan agama tanpa meninggalkan pelajaran umum, dilengkapi fasilitas lengkap adalah pilihan tepat untuk menciptakan karakter anak yang beriman, berakhlak mulia, bertakwa yang cerdas dan aktif dalam penelitian dan pembelajaran. (Tulisan tentang fasilitas sekolah bisa dibaca di tulisan sebelumnya yang berjudul: Fasilitas sekolah yang “wah” dan pengaruhnya terhadap prestasi anak).

Akhirnya, perkenankan saya dengan rendah hati menyitir sebuah hadits dari Rasulullah SAW: “sesungguhnya seseorang akan diangkat derajatnya di surga, lalu ia berujar, bagaimana mungkin aku mendapatkan derajat ini? Maka, dijawab, “hal ini lantaran anakmu telah memohonkan ampun untukmu (HR. Ibnu Majah)”

Salam al-madinah

Posted on
Categories : Categories Artikel
Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial